Kotagede Heritage
 

Sekapur Sirih

Kotagede merupakan Ibukota Kerajaan Mataram Islam Pertama (1577), sebagai penerus Kerajaan Demak dan Pajang.

 selengkapnya

Ki Ageng Karang Lo I

E-mail Cetak PDF
Ki Ageng Karang Lo
Ki Ageng Karang Loadalah tokoh pada zaman kerajaan Mataram ketika Mataram sedang dalam proses pembentukannya. Ia terkenal sebagai sahabat dekat Ki Ageng Pemanahan, yang mendampingi dan membantu terbentuknya Keraton Mataram dengan ibukota di Kotagede.

            Dikisahkan, pada waktu itu, Ki Ageng Karang Lo yang tinggal di Kampung Taji, timur Prambanan, suatu hari kedatangan tamu yang singgah di rumahnya. Tamu tersebut adalah Ki Ageng Pemanahan beserta keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Mentaok, yaitu tempat yang dihadiahkan Sultan Pajang kepada dirinya.

            Ki Ageng Karang Lo menjamu keluarga Ki Ageng Pemanahan dengan hidangan yang amat memuaskan. Setelah dirasa cukup, Ki Ageng Pemanahan pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke Mentaok.  Pada saat itu, Ki Ageng Karang Lo berniat untuk ikut serta bersama keluarga Ki Ageng Pemanahan ke Mentaok. Ki Ageng Pemanahan pun menerimanya dengan senang hati.

            Tanah Mentaok ternyata masih jauh. Ketika sampai di Sungai Opak, mereka bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sebagai seorang wali, ia memberi nasehat kepada Ki Ageng Pemanahan sehubungan dengan Tanah Mentaok, dan tentang Ki Ageng Karang Lo. Nasehat itu adalah, agar Ki Ageng Pemanahan tetap mempererat persahabatan dengan Ki Ageng Karang Lo. Nasehat lainnya, agar Ki Ageng Pemanahan selalu ikut mengenyam kebahagiaan bersama Ki Ageng Karang Lo.

            Nasehat Sunan Kalijaga tersebut tersimpan dalam hati Ki Ageng Pemanahan hingga ia membuka hutan Mentaok menjadi Kerajaan Mataram. Konon, nama Mataram sendiri diambil dari kata ‘mentaok arum’ yang berarti mentaok yang harum. Kata ‘mentaok arum’ ini mengalami peluruhan menjadi ‘mentarum’. Untuk memudahkan pengucapan, lama kelamaan  kata ‘mentarum’ berubah menjadi Mataram. Ki Ageng Pemanahan melanjutkan nasehat Sunan Kalijaga kepada puteranya, Panembahan Senapati yang kemudian menjadi Raja Mataram.

 

Sumber Referensi:

Toponim Kotagede, 2011:  Erwito Wibowo, Hamid Nuri, Agung Hartadi.

Ensiklopedi Kotagede, 2005: Rizon Pamardhi Utomo

Bagikan postingan ini
Terakhir Diupdate ( Rabu, 06 Februari 2013 15:22 )  

Komentar ()


 

Kontak Kami

Lista
Shinta
Arum

Kalender Event

Last month September 2014 Next month
S M T W T F S
week 36 1 2 3 4 5 6
week 37 7 8 9 10 11 12 13
week 38 14 15 16 17 18 19 20
week 39 21 22 23 24 25 26 27
week 40 28 29 30

Latest Tweet

Cache folder is unwriteable. Solution: chmod 755 /home/kotaged3/public_html/cache

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday110
mod_vvisit_counterYesterday496
mod_vvisit_counterThis week2963
mod_vvisit_counterLast week3088
mod_vvisit_counterThis month7787
mod_vvisit_counterLast month13077
mod_vvisit_counterAll days330732

Online (20 minutes ago): 9
Your IP: 54.197.130.16
,
Today: Sep 19, 2014

You are here:

Related Links

Sanggar Tari Tejo Arum Kotagede
Salah satu usaha melestarikan seni tradisi, warisan pusaka Kotagede.
Selanjutnya
Perpustakaan Heritage Kotagede
Lokasi : Gandok Tengen Ndalem Ngaliman, Kompleks Sopingen, Prenggan Kotagede
Selanjutnya

Gallery Kotagede

Bapak Sri Probo dari World Bank berjbatan dengan Pak Lurah Jagalan. Praktek guiding oleh peserta muda. Pak Walikota bertanda tangan di kop Forum Joglo. Rombongan peserta pelatihan menyusuri jalan di Sungai Gadjah Wong. IMG_1102 Suasan diskusi dengan para tamu dari Haiti. IMG_1254 Peserta menerima arahan dari para nara sumber. Peserta pelatihan yang muda yang bersemangat. Kunjungan lapangan para tamu dari Haiti.